Gambar ini hanya ilusi dan diambil dari google. Cireng asli hanya dapat dimakan dari dunia nyata!
Jas Mecir : Jangan sekali-kali melupakan cireng
-Aliansi Pedagang Cireng Kutub Utara-
Hampir setiap
hari kita di bombardir oleh tayangan-tayangan kuliner yang melaparkan perut
kita, mulai dari acara jalan-jalannya Pak Bondan, masak-masaknya Farrah Quin,
gila makannya trans 7, sampe orang masak dimarah-marahin di master chef, masih
inget Chef Juna yg bilang “masak apa kamu ? buat saya ini sampah”.
Tapi apakah
sodara-sodara pernah melihat yang namanya CIRENG dalam tayangan-tayangan tadi
itu ? hampir terlupakan yakan ?.
Kita menganggap
kalo makanan seperti cireng ini terkesan jadul, kuno, ga level. Itu salah brayy
!, karena kenyataannya cireng ini, rasanya seperti cireng banget, lah kan iya
emang cireng, kalo cakue ya rasanya rasa cakue. :D
Entah berasal
dari mana, asal mulanya cireng ini. Tapi yang penulis tahu, bahwa cireng adalah
sebuah singkatan dari ACI DIGORENG. Aci adalah sebutan buat tepung tapioka yang
kemudian diberi air hangat kemudian dibentuk dan DIGORENG.
Seandainya ada sebuah
tagline yang bertuliskan “Percuma kuliah
di Bandung, kalo belum pernah makan cireng” digerobaknya Mang Yayat (Nama
samaran, aslinya ga tau siapa) mungkin para maba (mahasiswa baru) yang kuliah
di Bandung tapi berasal dari luar Bandung, akan langsung menyerbu gerobaknya
Mang Yayat. Bukan untuk demo, bukan. Tapi mencicipi cireng bumbu yang
maenyoooooos itu.
Meski cireng
ini adalah makanan yang sudah ada diwaktu penulis belum lahir, tapi hari ini
cireng mulai banyak diburu, bukan oleh Densus tapi oleh penggemar kuliner. Kita
sebagai insan kreatif dan inovatif harus lebih memperhatikan keberadaan cireng
ini, jangan sampai cireng ini langka karena dianggap ga level oleh
manusia-manusia gaul yang lebih suka nongkrong di teras-teras alfamart.
Sudah saatnya
mahasiswa dengan notabenenya sebagai agent
of change, mulai coba-coba buat skripsi dengan mengangkat judul tentang
cireng, seperti :
“Respon minyak bimoli terhadap cireng dengan penambahan sirup marjan pada cireng isi nasi liwet”
Mungkin dengan penelitian-penelitian
seperti ini, penganan-penganan yang kini terlupakan akan hidup kembali dan
dapat dinikmati oleh kita semua sebagai manusia komsumtif yang dapat mengkudeta
roda pedagang cireng di depan kampus UIN Bandung.
Dody Rusli
November 2013
Ditulis setelah mencoba icip-icip cireng bumbu depan kampus :)

hahah.. balik bandung atuh prad biar ketemu cireng dan cakue mini
BalasHapus