Senin, 01 Juni 2015

Cireng Bumbu



Gambar ini hanya ilusi dan diambil dari google. Cireng asli hanya dapat dimakan dari dunia nyata!

Jas Mecir : Jangan sekali-kali melupakan cireng
-Aliansi Pedagang Cireng Kutub Utara-


Hampir setiap hari kita di bombardir oleh tayangan-tayangan kuliner yang melaparkan perut kita, mulai dari acara jalan-jalannya Pak Bondan, masak-masaknya Farrah Quin, gila makannya trans 7, sampe orang masak dimarah-marahin di master chef, masih inget Chef Juna yg bilang “masak apa kamu ? buat saya ini sampah”.

Tapi apakah sodara-sodara pernah melihat yang namanya CIRENG dalam tayangan-tayangan tadi itu ? hampir terlupakan yakan ?.

Kita menganggap kalo makanan seperti cireng ini terkesan jadul, kuno, ga level. Itu salah brayy !, karena kenyataannya cireng ini, rasanya seperti cireng banget, lah kan iya emang cireng, kalo cakue ya rasanya rasa cakue. :D

Entah berasal dari mana, asal mulanya cireng ini. Tapi yang penulis tahu, bahwa cireng adalah sebuah singkatan dari ACI DIGORENG. Aci adalah sebutan buat tepung tapioka yang kemudian diberi air hangat kemudian dibentuk dan DIGORENG.

Seandainya ada sebuah tagline yang bertuliskan “Percuma kuliah di Bandung, kalo belum pernah makan cireng” digerobaknya Mang Yayat (Nama samaran, aslinya ga tau siapa) mungkin para maba (mahasiswa baru) yang kuliah di Bandung tapi berasal dari luar Bandung, akan langsung menyerbu gerobaknya Mang Yayat. Bukan untuk demo, bukan. Tapi mencicipi cireng bumbu yang maenyoooooos itu.

Meski cireng ini adalah makanan yang sudah ada diwaktu penulis belum lahir, tapi hari ini cireng mulai banyak diburu, bukan oleh Densus tapi oleh penggemar kuliner. Kita sebagai insan kreatif dan inovatif harus lebih memperhatikan keberadaan cireng ini, jangan sampai cireng ini langka karena dianggap ga level oleh manusia-manusia gaul yang lebih suka nongkrong di teras-teras alfamart.

Sudah saatnya mahasiswa dengan notabenenya sebagai agent of change, mulai coba-coba buat skripsi dengan mengangkat judul tentang cireng, seperti :

“Respon minyak bimoli terhadap cireng dengan penambahan sirup marjan pada cireng isi nasi liwet”
Mungkin dengan penelitian-penelitian seperti ini, penganan-penganan yang kini terlupakan akan hidup kembali dan dapat dinikmati oleh kita semua sebagai manusia komsumtif yang dapat mengkudeta roda pedagang cireng di depan kampus UIN Bandung.

Dody Rusli
November 2013
Ditulis setelah mencoba icip-icip cireng bumbu depan kampus :)

1 komentar:

  1. hahah.. balik bandung atuh prad biar ketemu cireng dan cakue mini

    BalasHapus