Senin, 28 September 2015

"Generasi Itu Bernama ..."


Jauh sebelum mereka datang, kami berunding memikirkan bagaimana cara yang paling baik untuk menyambut anggota keluarga baru dilingkungan kami ini. Jauh sebelum itu, kami sudah merasakan bagaimana rasanya tersesat dan banyak menemui jalan buntu saat kami mengawali langkah di lingkungan ini, ketidaktahuan itu seolah-olah menjadikan kami bodoh sehingga mudah untuk dibodoh-bodohi. Jauh setelah itu, kami tak mau lagi, itu dirasakan oleh generasi baru, generasi yang kami sebut hari ini sebagai Generasi Tunas Lotus. Mengapa tunas lotus ? adalah karna lotus memiliki sifat yang konsisten (panceg-dalam bahasa sunda), meski hidup dalam lingkungan berlumpur namun tetap dapat mempertahankan keindahannya, bahkan tetap bertahan walau lingkungannya ingin merusaknya, tapi dia sedikitpun tidak memiliki niat untuk merusak lingkungannya, malah sebaliknya menjadi penghias dan pemanis dalam suasana seperti itu. Inilah yang kami maknai sebagai generasi yang akan ikut menjaga nama baik lingkungan kami.

Puluhan rapat, dan ribuan menit kami habiskan diforum rapat, sejak sebelum bulan ramadhan, hingga masuk bulan ramadhan, hingga harus berbuka puasa bersama di sebuah kantin di kampus ini (yg saat itu tutup) dengan alakadarnya, namun keyakinan itu selalu ada, kebersamaan menutupi ajang perbedaan pendapat dalam meja rapat. Permasalah yang terduga hingga tak diduga semakin timbul ke permukaan, itulah yang sang Ketua Organisasi (Ketua Senat) sebut "dinamika".

Pertentangan hingga blok penentang semakin menjadi-jadi, semakin gerilya, "apa maksudnya coba ?" dalam benak kami waktu itu. Jalan kebaikan sepertinya memang tak selalu mulus, kerikil kecil berhasil melukai kaki kami, sayangnya kami sudah terlatih untuk hal seperti itu.

Bulan Agustus menjadi bulan kebanggaan tersendiri bagi kami, kami menerima anggota keluarga baru, bukan keluarga rumah tangga apalagi partai politik atau semacamnya, bukan, kami bisa pastikan itu! Tanggal 26 Agustus anggota keluarga baru itu benar-benar datang, menghampiri bukan hanya kami, tapi orang-orang tua kami di keluarga ini, itulah Pak Dekan beserta para wakilnya dan Bapak/Ibu Ketua Jurusan beserta dosen-dosen. Kan memang harus gitu, harus ketemu sama orang tua dulu. Itulah etika dalam keluarga ini.

Selepas dari itu, kami titipkan mereka seorang kakak. Itulah yang kami sebut Senopati (pementor). Bukan orang yang sembarangan ternyata Sang Kakak ini, karena mereka memiliki harapan yang sama dengan kami, menjadi pramu tamu terbaik dengan segala kebaikannya.


Satu bulan Sang Kakak-kakak ini disiplin mengenalkan apa yang perlu dikenalkan dan berusaha menjadi sahabat bagi adik-adiknya yang akan besar di lingkungan ini, lingkungan yang bernama Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Seperti halnya masa penyapihan atau Orang Pertanian sebut masa semai, sekarang anggota keluarga baru ini sudah siap pindah tanam, karna sebelumnya kami beri perlakuan penyesuaian. Jangan tersinggung, jika anggota keluarga baru ini diibaratkan sebuah tanaman, maka kami anggap inilah "Tanaman - Tanaman Unggul".


26 September 2015, kami harus benar-benar pastikan lagi, dan karena itulah para anggota keluarga baru ini kami kumpulkan, kami perdengarkan apa harapan orang tua kami di lingkungan keluarga ini. Kami semakin sadar, anggota keluarga baru ini adalah generasi yang rendah hati turut saling menghargai, kami kumpulkan mereka di areal parkir universitas ini untuk menjadi satu, ya.. SATU.. SAINS & TEKNOLOGI !

Selamat datang Generasi Tunas Lotus,
Kami siapkan penyambutan kecil ini spesial untuk kalian,
banyak kekurangan dimana-mana, mohonlah maafkan kami,
karna apalah kami ini, bukan juga penyambut profesional
semoga apa yang termaknai dalam kegiatan ini, menjadi pematik hati dan fikiran, bahwa menyambut bukan sekedar tentang basa basi, namun terkandung banyak arti...didalamnya.


atas rasa hormat penulis, secara pribadi penulis mengucapkan,

Terima kasih Punggawa, terima kasih Tumenggung, terima kasih Senopati, terima kasih Patih, terima kasih Pandawa, terima kasih Prabu, terima kasih Adipati, terima kasih Bathara, dan terima kasih kepada Orang-orang Tua Kami di lingkungan Keluarga Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Terima kasih atas segala bentuk kemanfaatan yang terkandung dalam kegiatan ini.
Inilah bentuk Rahmatan Lil'Alamin dalam versi kami.



27 September 2015
Dody Rusli,
Konseptor MAPPING SAINTEK 2015

Senin, 15 Juni 2015

Tips Action, Tanpa NGANTUK!

(Salah satu artikel yang saya tulis dan di terbitkan oleh MYN MAGZ Edisi #6 PEMBALASAN)


Pengen action tapi kalah sama rasa ngantuk ??...ahhhh, setopp... jangan gelisah!! Nih Mamang Menyon kasih tipsnya agar menyoners dapat ber-ACTION tanpa heuayy..

Ini dia tipsnya :
1. Tidur Cukup
Menyoners, usahain nih buat tidur 8 jam sehari, terus biasain tidurnya jam 9 malem, karena waktu tersebut merupakan waktu paling optimal buat tidur. Tidur cukup, menurut penelitian dapat menghilangkan berbagai penyakit seperti stres, darah tinggi dan kawan-kawannya.

2. Minum Segelas Air Putih
Air putih yaaa, jangan beli air yang lain-lain, nanti malah oleng jadinya. Usahain minum air putih murni 8 gelas perhari.

3. Minum Kopi
Tapi inget, jangan keseringan minum kopi juga ya, apalagi kalo ngopinya di cafe-cafe mewah gitu, karna terlalu banyak minum kopi dapat menyebabkan datangnya bermacam penyakit, contohnya : Kanker atau kantong kering (ga punya duit-Red), sampe ke penyakit serius seperti maag yg menyerang lambung. Bongkar!

4. Cuci Muka
Ini salah satu cara yang paling efektif loh Menyoners, agar lebih efektif lagi, coba cuci mukanya pake air dingin, biar lebih segerrr.

5. Tarik Nafas
Menurut penelitian, ketika kamu menguap berarti kadar oksigen dalam otak itu lagi berkurang. Nah, buat ngatasinnya, coba tarik nafas dalam-dalam, tahan sekitar 5 detik terus hembuskan selama 5 detik. Lakukan ini beberapa kali sampai kamu merasa segar kembali yah.

6. Istirahat Sejenak
Istirahat disini bukan dalam artian istirahatnya anak SD ya Menyoners, yg jajan-jajan gitu. Tapi istirahat itu maksudnya berhenti sejenak dari aktivitas kamu, bisa sambil meregangkan otot-otot tangan, kaki, pinggang, ataupun menggoyang-goyangkan kepala.

7. Olahraga
Dengan berolahraga kamu bakal ngerasa lebih seger, ini juga bisa ngebuat tidur kamu dimalam hari lebih nyenyak.

Nah, itulah tips-tipsnya agar kamu nih Menyoners terhindar dari rasa ngantuk. Semoga tips-tips tadi itu engga bikin kamu yang bacanya malah ketiduran yah, tapi kudu langsung ACTION (*gebrak meja). Sipp yah (y)

Sabtu, 06 Juni 2015

Cara Kasih Surprise Ke Cowo



Katanya cowo itu mahluk paling kalem sedunia. Haha cuma katanya doang kayanya mah hehe..
Ini dia cara-cara buat kamu khususnya cewe nihya, buat kasih surprise ke cowo. Biar aga efektif aja siiii... :)
klik http://bit.ly/1FzzjEB

Alternatif Memaksimalkan Sosial Media


Salah satu anekdot pernah bilang kaya gini :
Kanada punya BBM, Amerika punya WhatsApp, Jepang punya Line, Korea punya Kakaotalk, dan Indonesia punya apa ? 
Indonesia juga punya. Punya waktu buat pake semua aplikasi tadi. hehe
Biar ga percuma punya banyak sosmed, ini alternatifnya http://bit.ly/1JxAZmY

Selasa, 02 Juni 2015

Sejarah Baru Dari Pekan Raya Saintek 2015



Yaa Tuhan,
jadikanlah PERMULAAN hari ini suatu KEBAIKAN, dan PERTENGAHANNYA suatu KEMENANGAN, dan PENGHABISANNYA suatu KEJAYAAN. Amien
-Pengujung April 2015-


Saya lupa hari itu hari apa dan tanggal berapa, yang jelas itu adalah hari dimana saya kembali bertemu dengan seorang yg cukup penting ditataran Fakultas Sains dan Teknologi : Ketua Senat, yang saat ini dijabat oleh Guriang Akbar.

Siang didalam perpustakaan Fakultas, kami membicarakan program usungan dosen yang dititipkan pada saya untuk kemudian dikordinasikan bersama pihak lain, Senat salah satunya. Panjang lebar saya menjelaskan mengenai program 'Sedekah Oksigen' hingga kurang lebih Guriang berkata : "Nanti ada dari Senat bidang PPK yang ikut bantu, nanti biar langsung ketemu aja sama kabidnya..". Kemudian, pembicaraan berganti saat Guriang membuka pembicaraan mengenai program yang sedang Senat siapkan untuk dihelar, pada akhir bulan April ini. Mimik muka yang penuh semangat 'khas' Ketua Senat Saintek periode 2015 ini memang kadang membuat lawan bicara menjadi penasaran, dengan apa yang akan dibicarakannya, mungkinkah itu yang disebut kharisma ? Ah, dia kan Guriang bukan Bisma :p.

**
Obrolan panjang yang memang selalu begitu. Terungkap bahwa hari itu, Guriang sedang 'mencuci otak' saya dengan apa yang beliau transformasikan melalui kata perkatanya dan saya semakin terpacu untuk ingin tau ketika Guriang berkata "hari ini, kita akan buat sejarah baru di Saintek". Ya! ‘sejarah baru’, seolah seperti ajakan Bung Karno pada tokoh nasional kemerdekaan pada masa penjajahan dulu (hehehe). Kemudian, saya tergerak dan ikut menimpali dengan masukan dan saran-saran membangun untuk mencoba memeriahkan acara. Dan, satu yang ingin saya titipkan dalam konsep besar acara ini, adalah acaranya harus punya perbedaan dengan acara-acara serupa yang sering digelar di kampus ini.
Selesai bercerita mengenai konsep acara, Ketua Senat ini mengundang saya untuk ikut dalam rapat panitia pada malam itu juga.

Iya, hari itu adalah hari dimana saya dilibatkan dalam program pertama dan merupakan program besar dari Senat Mahasiswa Sains dan Teknologi berjudul : Pekan Raya Saintek 2015.

**
Rapat dimulai kira-kira jam 7 malam, yang menarik dari rapat ini adalah kami hampir memblokade kawasan Kantin Mahad (pada saat itu rapat di Kantin Mahad) dengan cara menggunakan semua meja-meja makan yang ada dikantin, untuk kemudian di dempet-dempetkan. Malam semakin larut, satu persatu koordinator melaporkan perkembangan acara yang akan digelar mulai dari lomba puisi, bedah buku, hingga ke pagelaran wayang golek, dan acara konser musik. Sampai disatu titik, sambil menepuk bahu saya, Ketua Senat ini berkata pada forum "oh iya, ini kenalin Kang Dody, Kang Dody ini nantinya bantuin di acara kita jadi Tim Kreatif acara PRS", waww.. Saya setengah bangga dan setengahnya lagi jaim, karna secara tidak langsung saya sekarang adalah panitia yang ikut terlibat dalam perhelatan akbar Fakultas yang baru perdana diadakan tahun ini. Speechless...

**
Rapat semakin sering diadakan, Panitia semakin malam pulang ke kandang, dan Ketua Pelaksana semakin sering begadang, tanda-tanda tadi adalah tanda bahwa acara Pekan Raya Saintek 2015 ini semakin dekat. Koordinasi sana sini menjadi bagian wajib dari para koordinator segala cabang acara, tidak terkecuali saya sebagai Tim Kreatif yang juga harus mempersiapkan 'Happening Art' untuk membuka cabang acara Saintek Expo. Latihan berhari-hari dengan orang yang berganti-ganti membuat saya cukup kewalahan, karna untuk orang yang baru, saya harus kembali menjelaskan skenario yang saya konsep untuk adegan happening art ini. Tak selesai disitu, Ketua Senat ini kembali menginginkan sesuatu yang ‘Baru’, dengan itu 10 relawan dari jurusan Biologi dipersiapkan, 5 orang diantaranya berperan sebagai model busana recycle dari kertas koran dan 5 sisanya membantu dalam membuat kostum, untuk bagian ini di handle dan pimpin oleh seorang panitia acara bernama Garnis yang memang jago dalam hal fashion.

**


Pekan Raya Saintek 2015
Hari pertama tiba, hari cabang acara lomba digelar. Tanggal 20 April 2015, hari pertama acara kami bebarengan dengan acara lain di kampus yaitu acara Asia Africa Youth Conference 2015+, dimana acara tersebut mendatangkan pemuda delegasi negara peserta KAA dan Menteri Pemuda dan Olah Raga, Pak Imam Nahrawi yang saat ini (Mei 2015) sedang ramai dibicarakan, karna keputusannya membekukan PSSI.

Hari kedua adalah acara bedah buku bersama Abu Marlo, acara ini lancar jaya. Namun pada saat malam sebelumnya, sempat terjadi ketegangan akibat miss komunikasi antara Panitia, pihak Fakultas, dan pihak Bagian Umum kampus. Berkat usaha, doa, dan lobi segenap panitia yang akan men-dekor malam itu, akhirnya malam itu juga kami berhasil memboikot aula.
Bagian backstage atau belakang panggung menjadi bagian yang paling diingat oleh saya, karna pada malam itu bagian belakang panggung ini rupanya sudah seperti jalanan gang yang kumuh, banyak dus-dus snak konsumsi beserta cangkang makanan sisa acara sebelumnya yang diberserakan tidak disiplin di belakang panggung ini. Bagian belakang ini dimanfaatkan panitia unt jadi area print sertifikat acara, kurang lebih ada 3 printer beserta 5-8 orang operator yang sibuk ngeprint sambil terkantuk-kantuk, bahkan harus bermalam di aula kampus, kasihan, dalam hati saya pada mereka, tapi inilah bentuk dedikasi panitia untuk kelancaran acara. Ya, salut!

Hari ketiga dan ke-empat adalah hari Fakultas kami kedatangan tamu, Dosen-Dosen Fakultas Sains dan Teknologi dari Perguruan-Perguruan Tinggi Islam se-Indonesia. Beliau-beliau ini berkumpul untuk merumuskan pembentukan Asosiasi Dosen. Beserta dengan itu, di halaman depan aula multipurpose digelar Saintek Expo yang menampilkan stand pameran karya mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi juga stand-stand kuliner.

Hari kelima adalah hari Jum'at tanggal 24 April 2015, tidak ada acara disiang hari karena kami harus jum'atan, selain itu juga tanggal tersebut nun jauh di jalan Asia Afrika Kota Bandung sedang digelar acara puncak Konferensi Asia Afrika yaitu Historical Walk dan dilanjutkan dengan Konferensi Kepala-Kepala Negara di Gedung Merdeka. Ridwan Kamil sebagai Wali Kota Bandung, membuat kebijakan untuk meliburkan semua aktifitas formal pada hari itu, ah.. Kang Emil ini selalu saja punya cara untuk membuat warga Bandung senang, karna libur.

Kembali ke acara Pekan Raya Saintek 2015. Berbeda dengan hari sebelumnya, hari kelima ini kampus kami ditamui oleh anak-anak PAUD dan taman kanak-kanak sejak jam 7 pagi. Adik-adik ini datang bersama Guru atau orang tua mereka untuk mengikuti, acara Acipaind Kids yang merupakan sebuah acara perlombaan mewarnai se-Bandung Timur tepatnya TK dan PAUD sekitaran Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Malamnya di Taman Tugu Kujang atau halaman parkir Aula Multipurpose, kami menghelar Pagelaran Wayang Golek bersama Ki Dalang Opik Sunandar Sunarya. Cekakak cekikikan, suara tawa dari penonton dan melubernya penonton hingga ke jalan-jalan, membuat kami panitia bernafas lega dan gembira, karena acara yang diperjuangkan ini (karna acara ini termasuk dalam acara dgn anggaran yang lumayan, mahal. Hehe ) ternyata sangat "ngaruh", Alhamdulillah.. syukur kami kompak saat evaluasi malam itu juga. Pagelaran wayang ini dihadiri oleh Dekan Fakultas, Wakil Dekan, Ketua Jurusan, Kepala Desa, Pejabat Kota, Polsek Panyileukan, Presiden Mahasiswa, Ketua Senat, Ketua Himpunan, Pemuda Karang Taruna sekitar, mahasiwa/i, dan masyarakat umum lainnya. Semua elemen tadi menjadi satu pada malam itu, seperti sudah memang seharusnya budaya selalu dapat menyatukan perbedaan. Keren!

Hari terakhir acara PRS 2015 diawali pada pagi hari dengan pengumuman pemenang lomba, kemudian diteruskan dengan lomba tumpeng antar jurusan.
Selesai acara pagi-siang, kami bersiap untuk menyiapkan acara puncak, yaitu Bazzar Seni dengan acara utama Konser Musik. Tidak tanggung-tanggung untuk acara ini kami mendatangkan Badai Kerispatih, TIGAPAGI, Erwin Saz, 3 band artis yang merupakan finalis LA Meet Label, dan 1 grup band bergenre ska yang sudah keren sejak cek sound.
Sejak dari jam 1 siang, panitia sudah mondar mandir kesana kemari menyiapkan ruangan untuk artis, mulai jam segitu juga artis sudah mulai berdatangan untuk persiapan dan melakukan cek sound, bahkan hingga adzan magrib berkumandang artis masih berdatangan.

Kami sepakat bahwa acara akan dibuka pada jam 7 malam. Saat tiba waktunya, pintu tiket mulai dibuka dan aula multipurpose mulai dipadati muda mudi yang ingin nonton konser musik ini.
Mulai dari musik beralunan symphoni hingga yg bikin joget, panitia sediakan dalam acara konser ini. Meski sempat terjadi kesalahan teknis, saat penampilan dari band penutup, yaitu kabel sound lepas dari colokannya, tapi problem itu langsung ditangani teknisi dan dengan begitu band penutup ini kembali berhasil membuat yang menontonnya ingin ikut joget. Kelihatannya mereka yg menonton konser ini pada terhibur, dan seharusnya memang begitu karena acara ini kan emang acara hiburan, yey.. hehe.

Sekitar jam 10 malam acara selesai, bersamaan dengan penonton yang mulai meninggalkan lokasi acara, panitia bergegas menyiapkan persembahan terakhir dalam serangkaian acara Pekan Raya Saintek 2015 ini, yaitu pesta kembang api yg dibeli dari Cibadak sore hari, di hari itu.
Malam dengan langit yang berwarna warni, berhasil menutup PRS 2015 ini dengan rasa syukur yang diwujudkan dalam balutan doa dan ekspresi tawa bahagia para panitia dan seluruh partisipan acara..

**
Pekan Raya Saintek 2015 selesai malam itu, dengan ditutup oleh saya yang berebut doorprize dari sponsor Wardah, dengan salah satu Panitia saat evaluasi berlangsung.  Hahaha
Pekan Raya Saintek ini adalah serentet acara berbobot yang dikemas dengan keberanian ber eksperimen para panitianya, dan dibangun dari nilai-nilai kebersamaan yang berasal dari nuansa kekeluargaan dilingkungan Fakultas Sains dan Teknologi.
Kedepan, semoga apa yang menjadi evaluasi mengenai keseluruhan acara adalah pelajaran panjang yang berharga, untuk semua kalangan panitia dalam memanjemen sebuah helaran, dan menjadi sejarah baru kegiatan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi yang dapat dijadikan referensi bagi acara serupa lainnya. 


Apresiasi
Sepenuhnya, tulisan ini saya tulis dan dedikasikan untuk mereka yang menghargai karya, yang rela bersusah payah, mengerjakan apa yang tidak seharusnya dikerjakan. Namun mereka tetap laksanakan, sepertinya mereka tau, tetap bahwa guru terbaik itu bernama pengalaman. Dan mereka itu adalah panitia !

Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, baik mensukseskan, mendukung, mengamankan, atau hanya sekedar menyampaikan informasi mengenai acara ini. Semoga, apa yang baik dalam acara ini dapat bermanfaat dan apa yg kurang baik menjadi perbaikan bersama..
Sampai jumpa di acara keren lainnya.. Hatur nuhun sadaya :)

Bandung, Mei 2015

Dody Rusli
-Tim Kreatif Pekan Raya Saintek 2015

5 Mitos Yang Salah Tentang Uang

Jangan korbankan diri kamu demi uang. Baca artikel berikut agar lebih jelas... http://bit.ly/1GiIi2B

Bahaya Menggaruk Bagian Hitam Voucher Isi Ulang

Tau gak kenapa kita gaboleh menggaruk bagian hitam pada voucher pulsa isi ulang dengan kuku ? temukan jawabannya disini! http://bit.ly/1KAPAN2

Senin, 01 Juni 2015

Cireng Bumbu



Gambar ini hanya ilusi dan diambil dari google. Cireng asli hanya dapat dimakan dari dunia nyata!

Jas Mecir : Jangan sekali-kali melupakan cireng
-Aliansi Pedagang Cireng Kutub Utara-


Hampir setiap hari kita di bombardir oleh tayangan-tayangan kuliner yang melaparkan perut kita, mulai dari acara jalan-jalannya Pak Bondan, masak-masaknya Farrah Quin, gila makannya trans 7, sampe orang masak dimarah-marahin di master chef, masih inget Chef Juna yg bilang “masak apa kamu ? buat saya ini sampah”.

Tapi apakah sodara-sodara pernah melihat yang namanya CIRENG dalam tayangan-tayangan tadi itu ? hampir terlupakan yakan ?.

Kita menganggap kalo makanan seperti cireng ini terkesan jadul, kuno, ga level. Itu salah brayy !, karena kenyataannya cireng ini, rasanya seperti cireng banget, lah kan iya emang cireng, kalo cakue ya rasanya rasa cakue. :D

Entah berasal dari mana, asal mulanya cireng ini. Tapi yang penulis tahu, bahwa cireng adalah sebuah singkatan dari ACI DIGORENG. Aci adalah sebutan buat tepung tapioka yang kemudian diberi air hangat kemudian dibentuk dan DIGORENG.

Seandainya ada sebuah tagline yang bertuliskan “Percuma kuliah di Bandung, kalo belum pernah makan cireng” digerobaknya Mang Yayat (Nama samaran, aslinya ga tau siapa) mungkin para maba (mahasiswa baru) yang kuliah di Bandung tapi berasal dari luar Bandung, akan langsung menyerbu gerobaknya Mang Yayat. Bukan untuk demo, bukan. Tapi mencicipi cireng bumbu yang maenyoooooos itu.

Meski cireng ini adalah makanan yang sudah ada diwaktu penulis belum lahir, tapi hari ini cireng mulai banyak diburu, bukan oleh Densus tapi oleh penggemar kuliner. Kita sebagai insan kreatif dan inovatif harus lebih memperhatikan keberadaan cireng ini, jangan sampai cireng ini langka karena dianggap ga level oleh manusia-manusia gaul yang lebih suka nongkrong di teras-teras alfamart.

Sudah saatnya mahasiswa dengan notabenenya sebagai agent of change, mulai coba-coba buat skripsi dengan mengangkat judul tentang cireng, seperti :

“Respon minyak bimoli terhadap cireng dengan penambahan sirup marjan pada cireng isi nasi liwet”
Mungkin dengan penelitian-penelitian seperti ini, penganan-penganan yang kini terlupakan akan hidup kembali dan dapat dinikmati oleh kita semua sebagai manusia komsumtif yang dapat mengkudeta roda pedagang cireng di depan kampus UIN Bandung.

Dody Rusli
November 2013
Ditulis setelah mencoba icip-icip cireng bumbu depan kampus :)

Sabtu, 30 Mei 2015

Untuk sekedar mengingatkan, bahwa kalo tidak salah tahun 2009 saya tergabung dalam kegiatan Pecinta Alam bernama SWADEKPALA yang mempunyai Sekretariat di Jalan PSM Kiaracondong Kota Bandung. Ini adalah foto dimana saya bersama 5 orang teman yang lain melaksanakan Pendidikan Dasar di Sukawanah, Lembang. Dari sinilah saya diberikan "nama rimba" begitu anak pecinta alam biasa sebut. Dan nama rimba saya adalah 'BUYUR'. Bagaimana ceritanya ? Lain waktu saya akan ceritakan. So, just stay enjoy for your visit my blog :)

dua tahun yang lalu, sebelum Ridwan Kamil benar-benar menjadi orang nomor 1 di Kota .Bdg, kami pernah bersamasama bergotong royong, melakukan apa yang kemudian kami namai BEBERES Bandung. Semoga lekas ada kegiatan serupa, agar .Bdg semakin "Indah". (Beberes Bandung 09 Februari 2013)

“don’t judge a book by it’s cover”

Investasi yang seseorang belanjakan selalu didasari pada sebuah kebutuhan. Misalnya seseorang menginvestasikan 25 ribu rupiah unt menonton film di sebuah bioskop kesayangan, ber arti orang tersebut sedang menginvestasikan uangnya untuk kebahagiaan apabila dia menonton film tersebut. Artinya hari itu orang tersebut sedang butuh hiburan atau sebuah cara untuk membahagiakan diri, caranya adalah dengan menonton, investasinya 25 ribu, nah gitulah kurang lebih penjelasannya

Seperti itulah saat kita mengambil keputusan untuk membelanjakan uang kita. Ada yang karena memang perlu sekali, atau hanya sebatas mengikuti trend, atau untuk hoby, dan lain-lain.

Bagi sebagian orang memang sulit untuk mengeluarkan uang untuk kegiatan yang satu ini. Belanja buku.

Membeli buku adalah hal yang akan mudah apabila kita dituntut untuk memiliki buku tersebut, contohnya buku-buku yang jadi referensi mata kuliah dan harus dimiliki oleh seorang mahasiswa. Lemahnya adalah ketika buku yang dibeli itu hanya sekedar ke-wajiban unt dimilikinya saja, tidak sebagai tambahan nutrisi pengetahuan bagi si pemilik buku tersebut.

Sehari yang lalu saya meniatkan diri untuk berbelanja buku ke sebuah kawasan pasar buku di jalan Palasari Bandung, hari itu adalah hari minggu, jadi pengunjung di Palasari tidak terlalu ramai, juga banyak toko-toko yang tidak buka.

Niatnya saya hanya akan membeli buku yang ada hubungannya dengan Pertanian dengan sub komoditi “Hortikultura” dan sebuah novel berjudul “Catatan Akhir Kuliah”.

Selepas memarkirkan motor, saya kemudian melihat ke sekitar, dan mulai mendekati salah satu kedai penjual buku. Kemudian, saya bertanya apakah ada buku yang berhubungan dengan Pertanian, dan ternyata ada sembari si mpunya kedai menanyakan “judul bukunya apa ?”,
“tentang hortikultura ada ga pak?”,

Bapak ini kembali balik bertanya“kalo hortikultura itu tanamannya kaya apa?”,

“sayuran pak..” jawab saya.

Kemudian bapak itu mengeluarkan berbagai macam buku yang berhubungan dengan sayuran, bahkan sampai ke buku budidaya tanaman karet beliau perlihatkan pada saya.

Cukup lama saya memilih-milih buku mana yang akan saya beli untuk hunting buku kali ini, melihat buku yang ditawarkan cukup menggugah untuk dimiliki. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli 2 buah buku dengan judul ”Panen Sayur Secara Rutin Di Lahan Sempit”, dan “Petunjuk Penggunaan Pupuk”. Kedua buku ini dikenakan potongan atau discount 20% sehingga harga yang harus saya bayar menjadi lebih murah. Inilah keunggulan Palasari. Hehe potongannya lumayan :p

Diakhir pembicaraan dengan pemilik toko buku tersebut, saya menanyakan apakah novel yang saya cari itu ada di tokonya atau tidak. Tapi ternyata novel tersebut tidak ada, dan bahkan setelah keliling-keliling sembari menanyakan ke setiap pejaga toko, judul novel yang saya cari sepertinya tidak beredar di Palasari.

Buku bekas
Sambil terus mencari novel tersebut, saya berjalan di area luar pasar Palasari.

Ada sebuah tempat yang membuat saya lama diam disitu dan kemudian melihat lihat sambil memperhatikan judul-judul buku yang ditumpuk di lapak tersebut, jejeran buku yang di display merupakan buku-buku umum juga novel dan majalah-majalah dan semuanya berlabel second alias buku bekas, namun pada sebagian buku dilapak tersebut ada yang dipelastiki ulang agar terlihat lebih ekslusif.

Bagi saya pribadi, tidak terlalu penting buku baru atau buku bekas, ‘toh bobot mutu sebuah buku tidak ditentukan dari statuta buku tersebut kan?, mau baru kek’ mau bekas, yang penting kan isinya !.
Itu juga lah yang membuat saya lama bertahan melihat-lihat buku di lapak buku yang bisa disebut kaki lima itu.

Diawali dengan melihat dan membuka-buka buku berjudul “Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan” yang mempunyai sampul hijau dengan ketebalan yang khas dari sebuah buku referensi kalangan akademisi.

Saya mulai tertarik untuk memiliki buku tersebut, meskipun pada halaman bagian belakang terdapat tambalan selotip.

Tapi buku tersebut saya simpan kembali ditumpukannya.

Karena saat itu juga terdapat salah satu buku, bisa dibilang ber-genre novel karena terlihat dari dimensi ukuran buku yang seperti novel-novel pada umumnya, bisa juga disebut buku panduan tentang sesuatu, karena buku tersebut menceritakan tentang kreativitas.

Saya yakin siapapun yang melihat buku ini dari luar (sampul/cover) tidak akan memilih atau malah untuk meliriknya pun tidak, apalagi untuk membelinya, karena..., sebetulnya saya tidak tega menyebutkannya, tapi ahh.. sudahlah. Cover buku ini pada bagian tertentu sudah banyak yang lecet, lebih dari itu terdapat bolong pada kertas covernya baik depan ataupun belakangnya, benar-benar bolong, cover buku yang berwarna putih menambah mudahnya noda yang menempel untuk merusak penampilan cover buku ini, terlebih halaman atau kertas pada buku ini mengalami pengeritingan, sepertinya buku ini pernah terombang-ambing di air, entahlah.

Ditambah, saya tidak bisa membaca lembar demi lembar isi dalam buku ini, karena buku ini dibungkus plastik.

Tapiiii, buku ini sangat-sangat menggugah untuk saya miliki. Serius!

Mengapa bisa?

“Ide kreatif kadang ibarat sebuah titik kecil. Dia berevolusi......”
Awalnya saya hanya iseng melihat dan memegang buku itu, sebetulnya pun judul buku yang berbahasa Inggris itu kurang saya pahami maksudnya apa. -_- hehe

Tapi setelah saya baca bagian belakang buku itu, yang menampilkan testimoni. Dan testimoninya ternyata dari orang yang tidak sembarang, Andy F. Noya, pembawa acara talk show Kick Andy, dan Pak Rhenald Kasali yang merupakan juga bukan orang biasa, beliau adalah seorang Guru Besar di Kampus Universitas Indonesia, juga masih banyak inovasi-inovasi lain yang Pak Rhenald sumbangkan untuk dunia pendidikan.

Testimoni kedua orang ini membuat saya penasaran apa sih isi buku ini ? apasih yang dibahas didalamnya ?.

Apalagi pada buku ini tertulis kata-kata seperti ini,
“Ide kreatif kadang ibarat sebuah titik kecil. Dia berevolusi, bertumbuh menjadi suatu yang sangat luar biasa karena melewati serentetan proses.  ......”.

Ini menarik.
Akhirnya saya pun menanyakan berapakah harga buku tersebut, dan bapak penjaga lapak itu menyebutkan harga 30 ribu, Hahh ? buku bekas, kertasnya udah kriting, covernya kotor, bolong-bolong gini harganya 30rebu ?. Harga yang fantastis bray.

Saya kemudian berusaha untuk mengurangi harganya, tapi hanya turun 5ribu saja, hehe.

Sambil terus menimbang-nimbang, tapi hati tetap pengen memiliki buku tersebut, akhirnya saya menawar bagaimana kalo 2 buku, dengan yang tadi (buku “Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan”) 30 ribu ?. 

Bapak itu pun langsung menangkis tawaran saya, dengan berkata “belum bisa, lebihin 5000 biarin lah”.

Akhirnya saya membeli 3 buah buku karena saya kembali tertarik dengan satu judul buku lagi yang terdapat di lapak buku bapak itu, judul buku yang satu lagi adalah “Fisiologi Tanaman, karangan Malcolm B. Wilkins (ed.)” mengingat dulu waktu semester III, nilai mata kuliah Fisiologi Tanaman saya C. Hehehe

Harga tawaran deal untuk ketiga buku tersebut adalah 65ribu dengan biaya sampul Rp. 2000 per buku.

Sebelum meninggalkan tempat, saya sempat ber-curhat pada si bapak itu bahwa saya sudah memasuki kuliah di fase tingkat akhir. Semoga dengan begitu, penglaris hasil si bapak menjual buku tadi bermanfaat bagi keluarganya, terlebih buku yang sekarang saya miliki dari lapak si bapak itu dapat bermanfaat dan di amalkan pula ilmunya. Amin

Kesimpulannya adalah se-usang apapun buku yang kita miliki atau kita beli, tidak menjadi  ukuran mutu sebuah buku. Bisa jadi, buku yang usang itu adalah buku dengan isi yang jauh lebih berbobot, dibanding buku-buku baru yang menggoda dalam tampilan rupa sampul luarnya. Karena setelah saya baca buku-buku tersebut, rupiah yg saya keluarkan unt membeli buku-buku bekas tadi, jauh lebih murah dibandingkan ilmu yang saya dapatkan pada isi didalamnya. Baru kali ini saya benar-benar merasakan apa itu makna mendasar dari istilah “don’t judge a book by it’s cover !”.

Bandung,
15 September 2014
Dody Rusli