Sabtu, 30 Mei 2015

“don’t judge a book by it’s cover”

Investasi yang seseorang belanjakan selalu didasari pada sebuah kebutuhan. Misalnya seseorang menginvestasikan 25 ribu rupiah unt menonton film di sebuah bioskop kesayangan, ber arti orang tersebut sedang menginvestasikan uangnya untuk kebahagiaan apabila dia menonton film tersebut. Artinya hari itu orang tersebut sedang butuh hiburan atau sebuah cara untuk membahagiakan diri, caranya adalah dengan menonton, investasinya 25 ribu, nah gitulah kurang lebih penjelasannya

Seperti itulah saat kita mengambil keputusan untuk membelanjakan uang kita. Ada yang karena memang perlu sekali, atau hanya sebatas mengikuti trend, atau untuk hoby, dan lain-lain.

Bagi sebagian orang memang sulit untuk mengeluarkan uang untuk kegiatan yang satu ini. Belanja buku.

Membeli buku adalah hal yang akan mudah apabila kita dituntut untuk memiliki buku tersebut, contohnya buku-buku yang jadi referensi mata kuliah dan harus dimiliki oleh seorang mahasiswa. Lemahnya adalah ketika buku yang dibeli itu hanya sekedar ke-wajiban unt dimilikinya saja, tidak sebagai tambahan nutrisi pengetahuan bagi si pemilik buku tersebut.

Sehari yang lalu saya meniatkan diri untuk berbelanja buku ke sebuah kawasan pasar buku di jalan Palasari Bandung, hari itu adalah hari minggu, jadi pengunjung di Palasari tidak terlalu ramai, juga banyak toko-toko yang tidak buka.

Niatnya saya hanya akan membeli buku yang ada hubungannya dengan Pertanian dengan sub komoditi “Hortikultura” dan sebuah novel berjudul “Catatan Akhir Kuliah”.

Selepas memarkirkan motor, saya kemudian melihat ke sekitar, dan mulai mendekati salah satu kedai penjual buku. Kemudian, saya bertanya apakah ada buku yang berhubungan dengan Pertanian, dan ternyata ada sembari si mpunya kedai menanyakan “judul bukunya apa ?”,
“tentang hortikultura ada ga pak?”,

Bapak ini kembali balik bertanya“kalo hortikultura itu tanamannya kaya apa?”,

“sayuran pak..” jawab saya.

Kemudian bapak itu mengeluarkan berbagai macam buku yang berhubungan dengan sayuran, bahkan sampai ke buku budidaya tanaman karet beliau perlihatkan pada saya.

Cukup lama saya memilih-milih buku mana yang akan saya beli untuk hunting buku kali ini, melihat buku yang ditawarkan cukup menggugah untuk dimiliki. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli 2 buah buku dengan judul ”Panen Sayur Secara Rutin Di Lahan Sempit”, dan “Petunjuk Penggunaan Pupuk”. Kedua buku ini dikenakan potongan atau discount 20% sehingga harga yang harus saya bayar menjadi lebih murah. Inilah keunggulan Palasari. Hehe potongannya lumayan :p

Diakhir pembicaraan dengan pemilik toko buku tersebut, saya menanyakan apakah novel yang saya cari itu ada di tokonya atau tidak. Tapi ternyata novel tersebut tidak ada, dan bahkan setelah keliling-keliling sembari menanyakan ke setiap pejaga toko, judul novel yang saya cari sepertinya tidak beredar di Palasari.

Buku bekas
Sambil terus mencari novel tersebut, saya berjalan di area luar pasar Palasari.

Ada sebuah tempat yang membuat saya lama diam disitu dan kemudian melihat lihat sambil memperhatikan judul-judul buku yang ditumpuk di lapak tersebut, jejeran buku yang di display merupakan buku-buku umum juga novel dan majalah-majalah dan semuanya berlabel second alias buku bekas, namun pada sebagian buku dilapak tersebut ada yang dipelastiki ulang agar terlihat lebih ekslusif.

Bagi saya pribadi, tidak terlalu penting buku baru atau buku bekas, ‘toh bobot mutu sebuah buku tidak ditentukan dari statuta buku tersebut kan?, mau baru kek’ mau bekas, yang penting kan isinya !.
Itu juga lah yang membuat saya lama bertahan melihat-lihat buku di lapak buku yang bisa disebut kaki lima itu.

Diawali dengan melihat dan membuka-buka buku berjudul “Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan” yang mempunyai sampul hijau dengan ketebalan yang khas dari sebuah buku referensi kalangan akademisi.

Saya mulai tertarik untuk memiliki buku tersebut, meskipun pada halaman bagian belakang terdapat tambalan selotip.

Tapi buku tersebut saya simpan kembali ditumpukannya.

Karena saat itu juga terdapat salah satu buku, bisa dibilang ber-genre novel karena terlihat dari dimensi ukuran buku yang seperti novel-novel pada umumnya, bisa juga disebut buku panduan tentang sesuatu, karena buku tersebut menceritakan tentang kreativitas.

Saya yakin siapapun yang melihat buku ini dari luar (sampul/cover) tidak akan memilih atau malah untuk meliriknya pun tidak, apalagi untuk membelinya, karena..., sebetulnya saya tidak tega menyebutkannya, tapi ahh.. sudahlah. Cover buku ini pada bagian tertentu sudah banyak yang lecet, lebih dari itu terdapat bolong pada kertas covernya baik depan ataupun belakangnya, benar-benar bolong, cover buku yang berwarna putih menambah mudahnya noda yang menempel untuk merusak penampilan cover buku ini, terlebih halaman atau kertas pada buku ini mengalami pengeritingan, sepertinya buku ini pernah terombang-ambing di air, entahlah.

Ditambah, saya tidak bisa membaca lembar demi lembar isi dalam buku ini, karena buku ini dibungkus plastik.

Tapiiii, buku ini sangat-sangat menggugah untuk saya miliki. Serius!

Mengapa bisa?

“Ide kreatif kadang ibarat sebuah titik kecil. Dia berevolusi......”
Awalnya saya hanya iseng melihat dan memegang buku itu, sebetulnya pun judul buku yang berbahasa Inggris itu kurang saya pahami maksudnya apa. -_- hehe

Tapi setelah saya baca bagian belakang buku itu, yang menampilkan testimoni. Dan testimoninya ternyata dari orang yang tidak sembarang, Andy F. Noya, pembawa acara talk show Kick Andy, dan Pak Rhenald Kasali yang merupakan juga bukan orang biasa, beliau adalah seorang Guru Besar di Kampus Universitas Indonesia, juga masih banyak inovasi-inovasi lain yang Pak Rhenald sumbangkan untuk dunia pendidikan.

Testimoni kedua orang ini membuat saya penasaran apa sih isi buku ini ? apasih yang dibahas didalamnya ?.

Apalagi pada buku ini tertulis kata-kata seperti ini,
“Ide kreatif kadang ibarat sebuah titik kecil. Dia berevolusi, bertumbuh menjadi suatu yang sangat luar biasa karena melewati serentetan proses.  ......”.

Ini menarik.
Akhirnya saya pun menanyakan berapakah harga buku tersebut, dan bapak penjaga lapak itu menyebutkan harga 30 ribu, Hahh ? buku bekas, kertasnya udah kriting, covernya kotor, bolong-bolong gini harganya 30rebu ?. Harga yang fantastis bray.

Saya kemudian berusaha untuk mengurangi harganya, tapi hanya turun 5ribu saja, hehe.

Sambil terus menimbang-nimbang, tapi hati tetap pengen memiliki buku tersebut, akhirnya saya menawar bagaimana kalo 2 buku, dengan yang tadi (buku “Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan”) 30 ribu ?. 

Bapak itu pun langsung menangkis tawaran saya, dengan berkata “belum bisa, lebihin 5000 biarin lah”.

Akhirnya saya membeli 3 buah buku karena saya kembali tertarik dengan satu judul buku lagi yang terdapat di lapak buku bapak itu, judul buku yang satu lagi adalah “Fisiologi Tanaman, karangan Malcolm B. Wilkins (ed.)” mengingat dulu waktu semester III, nilai mata kuliah Fisiologi Tanaman saya C. Hehehe

Harga tawaran deal untuk ketiga buku tersebut adalah 65ribu dengan biaya sampul Rp. 2000 per buku.

Sebelum meninggalkan tempat, saya sempat ber-curhat pada si bapak itu bahwa saya sudah memasuki kuliah di fase tingkat akhir. Semoga dengan begitu, penglaris hasil si bapak menjual buku tadi bermanfaat bagi keluarganya, terlebih buku yang sekarang saya miliki dari lapak si bapak itu dapat bermanfaat dan di amalkan pula ilmunya. Amin

Kesimpulannya adalah se-usang apapun buku yang kita miliki atau kita beli, tidak menjadi  ukuran mutu sebuah buku. Bisa jadi, buku yang usang itu adalah buku dengan isi yang jauh lebih berbobot, dibanding buku-buku baru yang menggoda dalam tampilan rupa sampul luarnya. Karena setelah saya baca buku-buku tersebut, rupiah yg saya keluarkan unt membeli buku-buku bekas tadi, jauh lebih murah dibandingkan ilmu yang saya dapatkan pada isi didalamnya. Baru kali ini saya benar-benar merasakan apa itu makna mendasar dari istilah “don’t judge a book by it’s cover !”.

Bandung,
15 September 2014
Dody Rusli

2 komentar: