Jumat, 29 Mei 2015

" Pa Iyep "


Selamat pagi dari Garut, sekitaran Cikajang Desa Cikandang yang sekarang sedang turun kabut. Dinginnn!

Hari ini adalah hari ke 3 kami menunaikan praktik kerja lapangan (PKL) disebuah perusahaan hidroponik (hidroponik : sistem budidaya pertanian tanpa media tanah) di daerah Garut, Cantigi Farm itu nama perusahaannya. Aku pun kemudian menuliskan cerita ini dalam kamar, di lantai 2 rumah tempat pemilik perusahaan yang berukuran 4x4 meter persegi, dengan penghuni 4 orang laki-laki baik, pun pembawa berkah (Amin), mereka bertiga adalah teman-teman pkl ku, selain itu ada 2 orang perempuan yang juga teman pkl disini, tapi mereka tidak sama-sama menghuni kamar ini, mereka diem benar-benar di lantai dua rumah Pa’ Iyep.

Semalam, Aku dan teman-teman berhasil mendapatkan sebuah pencerahan dari sang mpunya perusahaan ini, Pa Iyep nama beliau. Kemarin itu hari selasa dan sekarang hari rabu, juga sekarang masih jam 6 lebih 14 menit pagi.

Kira-kira jam setengah tujuh malam kemarin, kami berdiskusi dengan Pa’ Iyep, sebelum beliau berangkat ke Tanjungsari untuk menengok anaknya yang sedang sakit dan ingin dijemput untuk pulang kerumah.

Disaat kami sedang nge-blank akibat tidak mengerti, harus apa yang kami ambil sebagai lahan laporan pkl kami, saat itulah kami berhasil menceritakan kegelisahan itu pada Pa’ Iyep.  Panjang lebar Pa’ Iyep menceritakan apa yang menurutnya layak diceritakan, dari hal terkecil, hal ter-ripuh, sampai hal-hal yang membuat kami terbahak hahaha... . Itulah disini, di Cantigi Farm yang kini sudah terbuat dari rasa kekeluargaan dan silaturahim, juga rasa saling memiliki yang Pa’ Iyep tanamkan benihnya sejak kemarin, tanggal 17 Juni 2014, meski mungkin sebelumnya juga bisa.

Coba aku tuliskan apa saja yang kemarin Pa’ Iyep kasih tahu.
Pa’ Iyep mengatakan bahwa dimanapun kita hidup, kita harus paham dengan filosopi hidup atau kunci dari berkehidupan itu, iya itu adalah saling menerima, atau saling toleran. Jangan mengeluhkan atau menanamkan kebencian pada seseorang, karena kesananya akan teu reseup weh (engga suka) terusss. Artinya adalah bahwa, jika Uzy (salah satu teman pkl) merupakan orang yang ga suka kegaduhan, maka kita harus menerima dia dan menyesuaikan diri kita dengan Uzy itu. Aslina, “lamun urang geus bisa narima kitu mah, moal waas hirup dimana ge, reseup wehhh” kata Pa’ Iyep dengan bahasa Sunda Garutnya yg artinya “beneran, kalo kita udah bisa menerima apapun sifat orang, hidup dimanapun ga akan khawatir, enak terus”. Beliau mengatakan begitu juga sambil ketawa, karena sambil begitu kami jadi senang, iya karena suasananya jadi enggak menegangkan.

Sekarang apakah pembaca ingin bertanya, kenapa saat kita ingin mendengarkan tentang hal yang berhubungan dengan pertanian, Pa’ Iyep malah mengawali cerita dengan membahas tentang filosopi hidup seperti ini. Iya, kami juga tahu kok apa maknanya, makanya kami juga serius mendengarkan, waktu itu, eh.. waktu semalem.

Beliau juga menceritakan tentang kurikulum atau proses pendidikan di negeri ini. Ada yang menarik bagi ku. Itu saat Pa Iyep meng-aneh-kan “naha atuh pkl teh bet sakedeung-sakedeung teing ?”  (kenapa pklnya sebentar banget ?)

kemudian beliau menceritakan atau mengistilahkan seperti ini,
Pa’ Iyep : “Sekarang, kalo ada yang punya sawah seluas  1 hektar, saungnya kira-kira ada berapa ?”
Kami : “saungnya ?” Hiji mereun Pa’ saling bertatap-tatapan”

Kemudian Pa’ Iyep melanjutkan,
“Enya hiji weh cukup” (iya, satu aja, cukup), mau segede apapun sawahnya saungnya mah satu, karena pada fungsinya, saung hanya dijadikan tempat beristirahat melepas penat, sambil makan, sambil minum, sambil merenung bagaimana cara mengatasi permasalahan di lahan, juga sambil mencari solusinya. Artinya, bahwa sebuah bangunan di tengah-tengah sawah itu adalah tempat dimana petani ber-istirahat, merumuskan masalah dilapangan, dan memecahkan masalah tersebut. Bisa disebut, saung adalah sebuah tempat memikirkan hal-hal yang terkait teori.

Ini diasumsikan bahwa zaman sekarang itu malah bangunan-bangunan tempat berteori yang dibuat banyak dan “gararede” (besar), bukan sawahnya, jadi pantes kalo pertanian di Indonesia, walau banyak sarjananya “tetep weh bingung lamun dibawa ka kebon, karna kaget ninggali kaayaan lahan ayeuna” (tetep aja bingung kalo sudah di kebun, karna kaget liat keadaan lahan sebenarnya).

Sebetulnya banyak yang kami bahas pada malam itu, termasuk yang membuat kami tertawa adalah saat Pa Iyep bercerita waktu kerja dan ditempatkan di daerah Transmigrasi (Sumatra), saat itulah istri Pa’Iyep (biasa di panggil Si Ibu) lagi ngidam pengen makan botan (sarden), Pa’ Iyep waktu itu demi Si Ibu tercinta sampai-sampai nyari Sarden ke warung-warung yang pada saat itu untuk menyusuri jalan pun masih sepi, pun jalan disana masih gelap. Cerita lain juga adalah saat si Ibu ngidam lagi kepingin mie ayam, yang pada masa itu, penjual mie ayam membawa dagangannya dengan  ditanggung (seperti digotong), “bapa nepi ka lulumpatan ngudag tukang mie ayam, bari jeung poek, nu kakupingna teh ngan keketrokna hungkul”. (Bapak sampai lari-larian ngejar tukang mie ayam, sambil gelap, yang kedengarnya juga cuma suara kentungannya aja).

Sebegitulah cerita Pa’ Iyep pada kami, sebelum beliau benar-benar berangkat menggunakan mobil pick upnya menuju Tanjung Sari, waktu itu jam sudah menunjukkan jam 10 malam.


Rabu, 18 Juni 2014
07.01 pagi, Cikajang, Garut, sambil kedinginan di kamar.
-Dody Rusli-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar