Untuk sekedar mengingatkan, bahwa kalo tidak salah tahun 2009 saya tergabung dalam kegiatan Pecinta Alam bernama SWADEKPALA yang mempunyai Sekretariat di Jalan PSM Kiaracondong Kota Bandung. Ini adalah foto dimana saya bersama 5 orang teman yang lain melaksanakan Pendidikan Dasar di Sukawanah, Lembang. Dari sinilah saya diberikan "nama rimba" begitu anak pecinta alam biasa sebut. Dan nama rimba saya adalah 'BUYUR'. Bagaimana ceritanya ? Lain waktu saya akan ceritakan. So, just stay enjoy for your visit my blog :)
Sabtu, 30 Mei 2015
“don’t judge a book by it’s cover”
Investasi yang seseorang
belanjakan selalu didasari pada sebuah kebutuhan. Misalnya seseorang
menginvestasikan 25 ribu rupiah unt menonton film di sebuah bioskop kesayangan,
ber arti orang tersebut sedang menginvestasikan uangnya untuk kebahagiaan
apabila dia menonton film tersebut. Artinya hari itu orang tersebut sedang
butuh hiburan atau sebuah cara untuk membahagiakan diri, caranya adalah dengan
menonton, investasinya 25 ribu, nah gitulah kurang lebih penjelasannya
Saya yakin siapapun yang melihat buku ini dari luar (sampul/cover) tidak akan memilih atau malah untuk meliriknya pun tidak, apalagi untuk membelinya, karena..., sebetulnya saya tidak tega menyebutkannya, tapi ahh.. sudahlah. Cover buku ini pada bagian tertentu sudah banyak yang lecet, lebih dari itu terdapat bolong pada kertas covernya baik depan ataupun belakangnya, benar-benar bolong, cover buku yang berwarna putih menambah mudahnya noda yang menempel untuk merusak penampilan cover buku ini, terlebih halaman atau kertas pada buku ini mengalami pengeritingan, sepertinya buku ini pernah terombang-ambing di air, entahlah.
Seperti itulah saat kita
mengambil keputusan untuk membelanjakan uang kita. Ada yang karena memang perlu
sekali, atau hanya sebatas mengikuti trend, atau untuk hoby, dan lain-lain.
Bagi sebagian orang memang sulit
untuk mengeluarkan uang untuk kegiatan yang satu ini. Belanja buku.
Membeli buku adalah hal yang akan
mudah apabila kita dituntut untuk memiliki buku tersebut, contohnya buku-buku
yang jadi referensi mata kuliah dan harus dimiliki oleh seorang mahasiswa.
Lemahnya adalah ketika buku yang dibeli itu hanya sekedar ke-wajiban unt dimilikinya
saja, tidak sebagai tambahan nutrisi pengetahuan bagi si pemilik buku tersebut.
Sehari yang lalu saya meniatkan
diri untuk berbelanja buku ke sebuah kawasan pasar buku di jalan Palasari
Bandung, hari itu adalah hari minggu, jadi pengunjung di Palasari tidak terlalu
ramai, juga banyak toko-toko yang tidak buka.
Niatnya saya hanya akan membeli
buku yang ada hubungannya dengan Pertanian dengan sub komoditi “Hortikultura”
dan sebuah novel berjudul “Catatan Akhir Kuliah”.
Selepas memarkirkan motor, saya
kemudian melihat ke sekitar, dan mulai mendekati salah satu kedai penjual buku.
Kemudian, saya bertanya apakah ada buku yang berhubungan dengan Pertanian, dan
ternyata ada sembari si mpunya kedai menanyakan “judul bukunya apa ?”,
“tentang hortikultura ada ga
pak?”,
Bapak ini kembali balik
bertanya“kalo hortikultura itu tanamannya kaya apa?”,
“sayuran pak..” jawab saya.
Kemudian bapak itu mengeluarkan
berbagai macam buku yang berhubungan dengan sayuran, bahkan sampai ke buku
budidaya tanaman karet beliau perlihatkan pada saya.
Cukup lama saya memilih-milih
buku mana yang akan saya beli untuk hunting buku kali ini, melihat buku yang
ditawarkan cukup menggugah untuk dimiliki. Akhirnya saya memutuskan untuk
membeli 2 buah buku dengan judul ”Panen Sayur Secara Rutin Di Lahan Sempit”,
dan “Petunjuk Penggunaan Pupuk”. Kedua buku ini dikenakan potongan atau discount 20% sehingga harga yang harus
saya bayar menjadi lebih murah. Inilah keunggulan Palasari. Hehe potongannya
lumayan :p
Diakhir pembicaraan dengan
pemilik toko buku tersebut, saya menanyakan apakah novel yang saya cari itu ada
di tokonya atau tidak. Tapi ternyata novel tersebut tidak ada, dan bahkan
setelah keliling-keliling sembari menanyakan ke setiap pejaga toko, judul novel
yang saya cari sepertinya tidak beredar di Palasari.
Buku bekas
Sambil terus mencari novel
tersebut, saya berjalan di area luar pasar Palasari.
Ada sebuah tempat yang membuat
saya lama diam disitu dan kemudian melihat lihat sambil memperhatikan
judul-judul buku yang ditumpuk di lapak tersebut, jejeran buku yang di display merupakan
buku-buku umum juga novel dan majalah-majalah dan semuanya berlabel second alias buku bekas, namun pada
sebagian buku dilapak tersebut ada yang dipelastiki ulang agar terlihat lebih
ekslusif.
Bagi saya pribadi, tidak terlalu
penting buku baru atau buku bekas, ‘toh
bobot mutu sebuah buku tidak ditentukan dari statuta buku tersebut kan?, mau
baru kek’ mau bekas, yang penting kan
isinya !.
Itu juga lah yang membuat saya
lama bertahan melihat-lihat buku di lapak buku yang bisa disebut kaki lima itu.
Diawali dengan melihat dan
membuka-buka buku berjudul “Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan” yang
mempunyai sampul hijau dengan ketebalan yang khas dari sebuah buku referensi
kalangan akademisi.
Saya mulai tertarik untuk memiliki buku tersebut, meskipun
pada halaman bagian belakang terdapat tambalan selotip.
Tapi buku tersebut saya simpan
kembali ditumpukannya.
Karena saat itu juga terdapat
salah satu buku, bisa dibilang ber-genre
novel karena terlihat dari dimensi ukuran buku yang seperti novel-novel pada
umumnya, bisa juga disebut buku panduan tentang sesuatu, karena buku tersebut
menceritakan tentang kreativitas.
Saya yakin siapapun yang melihat buku ini dari luar (sampul/cover) tidak akan memilih atau malah untuk meliriknya pun tidak, apalagi untuk membelinya, karena..., sebetulnya saya tidak tega menyebutkannya, tapi ahh.. sudahlah. Cover buku ini pada bagian tertentu sudah banyak yang lecet, lebih dari itu terdapat bolong pada kertas covernya baik depan ataupun belakangnya, benar-benar bolong, cover buku yang berwarna putih menambah mudahnya noda yang menempel untuk merusak penampilan cover buku ini, terlebih halaman atau kertas pada buku ini mengalami pengeritingan, sepertinya buku ini pernah terombang-ambing di air, entahlah.
Ditambah, saya tidak bisa membaca
lembar demi lembar isi dalam buku ini, karena buku ini dibungkus plastik.
Tapiiii, buku ini sangat-sangat
menggugah untuk saya miliki. Serius!
Mengapa bisa?
“Ide kreatif kadang ibarat sebuah
titik kecil. Dia berevolusi......”
Awalnya saya hanya iseng melihat
dan memegang buku itu, sebetulnya pun judul buku yang berbahasa Inggris itu kurang
saya pahami maksudnya apa. -_- hehe
Tapi setelah saya baca bagian
belakang buku itu, yang menampilkan testimoni. Dan testimoninya ternyata dari
orang yang tidak sembarang, Andy F. Noya, pembawa acara talk show Kick Andy,
dan Pak Rhenald Kasali yang merupakan juga bukan orang biasa, beliau adalah seorang Guru Besar di Kampus Universitas Indonesia, juga masih banyak inovasi-inovasi lain yang Pak Rhenald sumbangkan untuk dunia pendidikan.
Testimoni kedua orang ini membuat
saya penasaran apa sih isi buku ini ? apasih yang dibahas didalamnya ?.
Apalagi pada buku ini tertulis
kata-kata seperti ini,
“Ide kreatif kadang ibarat sebuah titik kecil. Dia berevolusi, bertumbuh menjadi suatu yang sangat luar biasa karena melewati serentetan proses. ......”.
Ini menarik.
Akhirnya saya pun menanyakan
berapakah harga buku tersebut, dan bapak penjaga lapak itu menyebutkan harga 30
ribu, Hahh ? buku bekas, kertasnya udah kriting, covernya kotor, bolong-bolong
gini harganya 30rebu ?. Harga yang fantastis bray.
Saya kemudian berusaha untuk
mengurangi harganya, tapi hanya turun 5ribu saja, hehe.
Sambil terus menimbang-nimbang,
tapi hati tetap pengen memiliki buku tersebut, akhirnya saya menawar bagaimana
kalo 2 buku, dengan yang tadi (buku “Ekologi, Lingkungan Hidup dan
Pembangunan”) 30 ribu ?.
Bapak itu pun langsung menangkis tawaran saya, dengan
berkata “belum bisa, lebihin 5000 biarin lah”.
Akhirnya saya membeli 3 buah buku
karena saya kembali tertarik dengan satu judul buku lagi yang terdapat di lapak
buku bapak itu, judul buku yang satu lagi adalah “Fisiologi Tanaman, karangan
Malcolm B. Wilkins (ed.)” mengingat dulu waktu semester III, nilai mata kuliah
Fisiologi Tanaman saya C. Hehehe
Harga tawaran deal untuk ketiga
buku tersebut adalah 65ribu dengan biaya sampul Rp. 2000 per buku.
Sebelum meninggalkan tempat, saya
sempat ber-curhat pada si bapak itu bahwa saya sudah memasuki kuliah di fase
tingkat akhir. Semoga dengan begitu, penglaris hasil si bapak menjual buku tadi
bermanfaat bagi keluarganya, terlebih buku yang sekarang saya miliki dari lapak
si bapak itu dapat bermanfaat dan di amalkan pula ilmunya. Amin
Kesimpulannya adalah se-usang
apapun buku yang kita miliki atau kita beli, tidak menjadi ukuran mutu sebuah buku. Bisa jadi, buku yang
usang itu adalah buku dengan isi yang jauh lebih berbobot, dibanding buku-buku
baru yang menggoda dalam tampilan rupa sampul luarnya. Karena setelah saya baca
buku-buku tersebut, rupiah yg saya keluarkan unt membeli buku-buku bekas tadi,
jauh lebih murah dibandingkan ilmu yang saya dapatkan pada isi didalamnya. Baru
kali ini saya benar-benar merasakan apa itu makna mendasar dari istilah “don’t judge
a book by it’s cover !”.
Bandung,
15 September 2014
Dody Rusli
Jumat, 29 Mei 2015
" Pa Iyep "
Selamat pagi dari Garut, sekitaran Cikajang Desa Cikandang yang sekarang sedang turun kabut. Dinginnn!
Hari ini adalah hari ke 3 kami
menunaikan praktik kerja lapangan (PKL) disebuah perusahaan hidroponik
(hidroponik : sistem budidaya pertanian tanpa media tanah) di daerah Garut,
Cantigi Farm itu nama perusahaannya. Aku pun kemudian menuliskan cerita
ini dalam kamar, di lantai 2 rumah tempat pemilik perusahaan yang berukuran 4x4
meter persegi, dengan penghuni 4 orang laki-laki baik, pun pembawa berkah
(Amin), mereka bertiga adalah teman-teman pkl ku, selain itu ada 2 orang
perempuan yang juga teman pkl disini, tapi mereka tidak sama-sama menghuni
kamar ini, mereka diem benar-benar di lantai dua rumah Pa’ Iyep.
Semalam, Aku dan teman-teman
berhasil mendapatkan sebuah pencerahan dari sang mpunya perusahaan ini, Pa Iyep
nama beliau. Kemarin itu hari selasa dan sekarang hari rabu, juga sekarang masih
jam 6 lebih 14 menit pagi.
Kira-kira jam setengah tujuh malam kemarin, kami berdiskusi dengan Pa’ Iyep, sebelum beliau berangkat ke Tanjungsari untuk menengok anaknya yang sedang sakit dan ingin dijemput untuk pulang kerumah.
Disaat kami sedang nge-blank akibat tidak mengerti, harus apa
yang kami ambil sebagai lahan laporan pkl kami, saat itulah kami berhasil
menceritakan kegelisahan itu pada Pa’ Iyep. Panjang lebar Pa’ Iyep menceritakan apa yang
menurutnya layak diceritakan, dari hal terkecil, hal ter-ripuh, sampai hal-hal yang membuat kami terbahak hahaha... . Itulah
disini, di Cantigi Farm yang kini sudah terbuat dari rasa kekeluargaan dan
silaturahim, juga rasa saling memiliki yang Pa’ Iyep tanamkan benihnya sejak
kemarin, tanggal 17 Juni 2014, meski mungkin sebelumnya juga bisa.
Coba aku tuliskan apa saja yang
kemarin Pa’ Iyep kasih tahu.
Pa’ Iyep mengatakan bahwa
dimanapun kita hidup, kita harus paham dengan filosopi hidup atau kunci dari
berkehidupan itu, iya itu adalah saling menerima, atau saling toleran. Jangan
mengeluhkan atau menanamkan kebencian pada seseorang, karena kesananya akan teu reseup weh (engga suka) terusss.
Artinya adalah bahwa, jika Uzy (salah satu teman pkl) merupakan orang yang ga
suka kegaduhan, maka kita harus menerima dia dan menyesuaikan diri kita dengan
Uzy itu. Aslina, “lamun urang geus bisa
narima kitu mah, moal waas hirup dimana ge, reseup wehhh” kata Pa’ Iyep
dengan bahasa Sunda Garutnya yg artinya “beneran, kalo kita udah bisa menerima
apapun sifat orang, hidup dimanapun ga akan khawatir, enak terus”. Beliau
mengatakan begitu juga sambil ketawa, karena sambil begitu kami jadi senang,
iya karena suasananya jadi enggak menegangkan.
Sekarang apakah pembaca ingin bertanya, kenapa saat kita ingin mendengarkan tentang hal yang berhubungan dengan pertanian, Pa’ Iyep malah mengawali cerita dengan membahas tentang filosopi hidup seperti ini. Iya, kami juga tahu kok apa maknanya, makanya kami juga serius mendengarkan, waktu itu, eh.. waktu semalem.
Beliau juga menceritakan tentang kurikulum atau proses pendidikan di negeri ini. Ada yang menarik bagi ku. Itu saat Pa Iyep meng-aneh-kan “naha atuh pkl teh bet sakedeung-sakedeung teing ?” (kenapa pklnya sebentar banget ?)
Sekarang apakah pembaca ingin bertanya, kenapa saat kita ingin mendengarkan tentang hal yang berhubungan dengan pertanian, Pa’ Iyep malah mengawali cerita dengan membahas tentang filosopi hidup seperti ini. Iya, kami juga tahu kok apa maknanya, makanya kami juga serius mendengarkan, waktu itu, eh.. waktu semalem.
Beliau juga menceritakan tentang kurikulum atau proses pendidikan di negeri ini. Ada yang menarik bagi ku. Itu saat Pa Iyep meng-aneh-kan “naha atuh pkl teh bet sakedeung-sakedeung teing ?” (kenapa pklnya sebentar banget ?)
kemudian beliau menceritakan atau mengistilahkan seperti ini,
Pa’ Iyep : “Sekarang, kalo ada
yang punya sawah seluas 1 hektar,
saungnya kira-kira ada berapa ?”
Kami : “saungnya ?” Hiji mereun
Pa’ saling bertatap-tatapan”
Kemudian Pa’ Iyep melanjutkan,
“Enya hiji weh cukup” (iya, satu aja, cukup), mau segede apapun
sawahnya saungnya mah satu, karena pada fungsinya, saung hanya dijadikan tempat
beristirahat melepas penat, sambil makan, sambil minum, sambil merenung
bagaimana cara mengatasi permasalahan di lahan, juga sambil mencari solusinya.
Artinya, bahwa sebuah bangunan di tengah-tengah sawah itu adalah tempat dimana
petani ber-istirahat, merumuskan masalah dilapangan, dan memecahkan masalah
tersebut. Bisa disebut, saung adalah sebuah tempat memikirkan hal-hal yang
terkait teori.
Ini diasumsikan bahwa zaman sekarang
itu malah bangunan-bangunan tempat berteori yang dibuat banyak dan “gararede” (besar), bukan sawahnya, jadi
pantes kalo pertanian di Indonesia, walau banyak sarjananya “tetep weh bingung lamun dibawa ka kebon,
karna kaget ninggali kaayaan lahan ayeuna”
(tetep aja bingung kalo sudah di kebun, karna kaget liat keadaan lahan
sebenarnya).
Sebetulnya banyak yang kami bahas pada malam itu, termasuk yang membuat kami tertawa adalah saat Pa Iyep bercerita waktu kerja dan ditempatkan di daerah Transmigrasi (Sumatra), saat itulah istri Pa’Iyep (biasa di panggil Si Ibu) lagi ngidam pengen makan botan (sarden), Pa’ Iyep waktu itu demi Si Ibu tercinta sampai-sampai nyari Sarden ke warung-warung yang pada saat itu untuk menyusuri jalan pun masih sepi, pun jalan disana masih gelap. Cerita lain juga adalah saat si Ibu ngidam lagi kepingin mie ayam, yang pada masa itu, penjual mie ayam membawa dagangannya dengan ditanggung (seperti digotong), “bapa nepi ka lulumpatan ngudag tukang mie ayam, bari jeung poek, nu kakupingna teh ngan keketrokna hungkul”. (Bapak sampai lari-larian ngejar tukang mie ayam, sambil gelap, yang kedengarnya juga cuma suara kentungannya aja).
Sebegitulah cerita Pa’ Iyep pada kami, sebelum beliau benar-benar berangkat menggunakan mobil pick upnya menuju Tanjung Sari, waktu itu jam sudah menunjukkan jam 10 malam.
Rabu, 18 Juni 2014
07.01 pagi, Cikajang, Garut, sambil kedinginan di kamar.
-Dody Rusli-
Langganan:
Komentar (Atom)


