Sabtu, 30 Mei 2015

Untuk sekedar mengingatkan, bahwa kalo tidak salah tahun 2009 saya tergabung dalam kegiatan Pecinta Alam bernama SWADEKPALA yang mempunyai Sekretariat di Jalan PSM Kiaracondong Kota Bandung. Ini adalah foto dimana saya bersama 5 orang teman yang lain melaksanakan Pendidikan Dasar di Sukawanah, Lembang. Dari sinilah saya diberikan "nama rimba" begitu anak pecinta alam biasa sebut. Dan nama rimba saya adalah 'BUYUR'. Bagaimana ceritanya ? Lain waktu saya akan ceritakan. So, just stay enjoy for your visit my blog :)

dua tahun yang lalu, sebelum Ridwan Kamil benar-benar menjadi orang nomor 1 di Kota .Bdg, kami pernah bersamasama bergotong royong, melakukan apa yang kemudian kami namai BEBERES Bandung. Semoga lekas ada kegiatan serupa, agar .Bdg semakin "Indah". (Beberes Bandung 09 Februari 2013)

“don’t judge a book by it’s cover”

Investasi yang seseorang belanjakan selalu didasari pada sebuah kebutuhan. Misalnya seseorang menginvestasikan 25 ribu rupiah unt menonton film di sebuah bioskop kesayangan, ber arti orang tersebut sedang menginvestasikan uangnya untuk kebahagiaan apabila dia menonton film tersebut. Artinya hari itu orang tersebut sedang butuh hiburan atau sebuah cara untuk membahagiakan diri, caranya adalah dengan menonton, investasinya 25 ribu, nah gitulah kurang lebih penjelasannya

Seperti itulah saat kita mengambil keputusan untuk membelanjakan uang kita. Ada yang karena memang perlu sekali, atau hanya sebatas mengikuti trend, atau untuk hoby, dan lain-lain.

Bagi sebagian orang memang sulit untuk mengeluarkan uang untuk kegiatan yang satu ini. Belanja buku.

Membeli buku adalah hal yang akan mudah apabila kita dituntut untuk memiliki buku tersebut, contohnya buku-buku yang jadi referensi mata kuliah dan harus dimiliki oleh seorang mahasiswa. Lemahnya adalah ketika buku yang dibeli itu hanya sekedar ke-wajiban unt dimilikinya saja, tidak sebagai tambahan nutrisi pengetahuan bagi si pemilik buku tersebut.

Sehari yang lalu saya meniatkan diri untuk berbelanja buku ke sebuah kawasan pasar buku di jalan Palasari Bandung, hari itu adalah hari minggu, jadi pengunjung di Palasari tidak terlalu ramai, juga banyak toko-toko yang tidak buka.

Niatnya saya hanya akan membeli buku yang ada hubungannya dengan Pertanian dengan sub komoditi “Hortikultura” dan sebuah novel berjudul “Catatan Akhir Kuliah”.

Selepas memarkirkan motor, saya kemudian melihat ke sekitar, dan mulai mendekati salah satu kedai penjual buku. Kemudian, saya bertanya apakah ada buku yang berhubungan dengan Pertanian, dan ternyata ada sembari si mpunya kedai menanyakan “judul bukunya apa ?”,
“tentang hortikultura ada ga pak?”,

Bapak ini kembali balik bertanya“kalo hortikultura itu tanamannya kaya apa?”,

“sayuran pak..” jawab saya.

Kemudian bapak itu mengeluarkan berbagai macam buku yang berhubungan dengan sayuran, bahkan sampai ke buku budidaya tanaman karet beliau perlihatkan pada saya.

Cukup lama saya memilih-milih buku mana yang akan saya beli untuk hunting buku kali ini, melihat buku yang ditawarkan cukup menggugah untuk dimiliki. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli 2 buah buku dengan judul ”Panen Sayur Secara Rutin Di Lahan Sempit”, dan “Petunjuk Penggunaan Pupuk”. Kedua buku ini dikenakan potongan atau discount 20% sehingga harga yang harus saya bayar menjadi lebih murah. Inilah keunggulan Palasari. Hehe potongannya lumayan :p

Diakhir pembicaraan dengan pemilik toko buku tersebut, saya menanyakan apakah novel yang saya cari itu ada di tokonya atau tidak. Tapi ternyata novel tersebut tidak ada, dan bahkan setelah keliling-keliling sembari menanyakan ke setiap pejaga toko, judul novel yang saya cari sepertinya tidak beredar di Palasari.

Buku bekas
Sambil terus mencari novel tersebut, saya berjalan di area luar pasar Palasari.

Ada sebuah tempat yang membuat saya lama diam disitu dan kemudian melihat lihat sambil memperhatikan judul-judul buku yang ditumpuk di lapak tersebut, jejeran buku yang di display merupakan buku-buku umum juga novel dan majalah-majalah dan semuanya berlabel second alias buku bekas, namun pada sebagian buku dilapak tersebut ada yang dipelastiki ulang agar terlihat lebih ekslusif.

Bagi saya pribadi, tidak terlalu penting buku baru atau buku bekas, ‘toh bobot mutu sebuah buku tidak ditentukan dari statuta buku tersebut kan?, mau baru kek’ mau bekas, yang penting kan isinya !.
Itu juga lah yang membuat saya lama bertahan melihat-lihat buku di lapak buku yang bisa disebut kaki lima itu.

Diawali dengan melihat dan membuka-buka buku berjudul “Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan” yang mempunyai sampul hijau dengan ketebalan yang khas dari sebuah buku referensi kalangan akademisi.

Saya mulai tertarik untuk memiliki buku tersebut, meskipun pada halaman bagian belakang terdapat tambalan selotip.

Tapi buku tersebut saya simpan kembali ditumpukannya.

Karena saat itu juga terdapat salah satu buku, bisa dibilang ber-genre novel karena terlihat dari dimensi ukuran buku yang seperti novel-novel pada umumnya, bisa juga disebut buku panduan tentang sesuatu, karena buku tersebut menceritakan tentang kreativitas.

Saya yakin siapapun yang melihat buku ini dari luar (sampul/cover) tidak akan memilih atau malah untuk meliriknya pun tidak, apalagi untuk membelinya, karena..., sebetulnya saya tidak tega menyebutkannya, tapi ahh.. sudahlah. Cover buku ini pada bagian tertentu sudah banyak yang lecet, lebih dari itu terdapat bolong pada kertas covernya baik depan ataupun belakangnya, benar-benar bolong, cover buku yang berwarna putih menambah mudahnya noda yang menempel untuk merusak penampilan cover buku ini, terlebih halaman atau kertas pada buku ini mengalami pengeritingan, sepertinya buku ini pernah terombang-ambing di air, entahlah.

Ditambah, saya tidak bisa membaca lembar demi lembar isi dalam buku ini, karena buku ini dibungkus plastik.

Tapiiii, buku ini sangat-sangat menggugah untuk saya miliki. Serius!

Mengapa bisa?

“Ide kreatif kadang ibarat sebuah titik kecil. Dia berevolusi......”
Awalnya saya hanya iseng melihat dan memegang buku itu, sebetulnya pun judul buku yang berbahasa Inggris itu kurang saya pahami maksudnya apa. -_- hehe

Tapi setelah saya baca bagian belakang buku itu, yang menampilkan testimoni. Dan testimoninya ternyata dari orang yang tidak sembarang, Andy F. Noya, pembawa acara talk show Kick Andy, dan Pak Rhenald Kasali yang merupakan juga bukan orang biasa, beliau adalah seorang Guru Besar di Kampus Universitas Indonesia, juga masih banyak inovasi-inovasi lain yang Pak Rhenald sumbangkan untuk dunia pendidikan.

Testimoni kedua orang ini membuat saya penasaran apa sih isi buku ini ? apasih yang dibahas didalamnya ?.

Apalagi pada buku ini tertulis kata-kata seperti ini,
“Ide kreatif kadang ibarat sebuah titik kecil. Dia berevolusi, bertumbuh menjadi suatu yang sangat luar biasa karena melewati serentetan proses.  ......”.

Ini menarik.
Akhirnya saya pun menanyakan berapakah harga buku tersebut, dan bapak penjaga lapak itu menyebutkan harga 30 ribu, Hahh ? buku bekas, kertasnya udah kriting, covernya kotor, bolong-bolong gini harganya 30rebu ?. Harga yang fantastis bray.

Saya kemudian berusaha untuk mengurangi harganya, tapi hanya turun 5ribu saja, hehe.

Sambil terus menimbang-nimbang, tapi hati tetap pengen memiliki buku tersebut, akhirnya saya menawar bagaimana kalo 2 buku, dengan yang tadi (buku “Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan”) 30 ribu ?. 

Bapak itu pun langsung menangkis tawaran saya, dengan berkata “belum bisa, lebihin 5000 biarin lah”.

Akhirnya saya membeli 3 buah buku karena saya kembali tertarik dengan satu judul buku lagi yang terdapat di lapak buku bapak itu, judul buku yang satu lagi adalah “Fisiologi Tanaman, karangan Malcolm B. Wilkins (ed.)” mengingat dulu waktu semester III, nilai mata kuliah Fisiologi Tanaman saya C. Hehehe

Harga tawaran deal untuk ketiga buku tersebut adalah 65ribu dengan biaya sampul Rp. 2000 per buku.

Sebelum meninggalkan tempat, saya sempat ber-curhat pada si bapak itu bahwa saya sudah memasuki kuliah di fase tingkat akhir. Semoga dengan begitu, penglaris hasil si bapak menjual buku tadi bermanfaat bagi keluarganya, terlebih buku yang sekarang saya miliki dari lapak si bapak itu dapat bermanfaat dan di amalkan pula ilmunya. Amin

Kesimpulannya adalah se-usang apapun buku yang kita miliki atau kita beli, tidak menjadi  ukuran mutu sebuah buku. Bisa jadi, buku yang usang itu adalah buku dengan isi yang jauh lebih berbobot, dibanding buku-buku baru yang menggoda dalam tampilan rupa sampul luarnya. Karena setelah saya baca buku-buku tersebut, rupiah yg saya keluarkan unt membeli buku-buku bekas tadi, jauh lebih murah dibandingkan ilmu yang saya dapatkan pada isi didalamnya. Baru kali ini saya benar-benar merasakan apa itu makna mendasar dari istilah “don’t judge a book by it’s cover !”.

Bandung,
15 September 2014
Dody Rusli

Jumat, 29 Mei 2015

" Pa Iyep "


Selamat pagi dari Garut, sekitaran Cikajang Desa Cikandang yang sekarang sedang turun kabut. Dinginnn!

Hari ini adalah hari ke 3 kami menunaikan praktik kerja lapangan (PKL) disebuah perusahaan hidroponik (hidroponik : sistem budidaya pertanian tanpa media tanah) di daerah Garut, Cantigi Farm itu nama perusahaannya. Aku pun kemudian menuliskan cerita ini dalam kamar, di lantai 2 rumah tempat pemilik perusahaan yang berukuran 4x4 meter persegi, dengan penghuni 4 orang laki-laki baik, pun pembawa berkah (Amin), mereka bertiga adalah teman-teman pkl ku, selain itu ada 2 orang perempuan yang juga teman pkl disini, tapi mereka tidak sama-sama menghuni kamar ini, mereka diem benar-benar di lantai dua rumah Pa’ Iyep.

Semalam, Aku dan teman-teman berhasil mendapatkan sebuah pencerahan dari sang mpunya perusahaan ini, Pa Iyep nama beliau. Kemarin itu hari selasa dan sekarang hari rabu, juga sekarang masih jam 6 lebih 14 menit pagi.

Kira-kira jam setengah tujuh malam kemarin, kami berdiskusi dengan Pa’ Iyep, sebelum beliau berangkat ke Tanjungsari untuk menengok anaknya yang sedang sakit dan ingin dijemput untuk pulang kerumah.

Disaat kami sedang nge-blank akibat tidak mengerti, harus apa yang kami ambil sebagai lahan laporan pkl kami, saat itulah kami berhasil menceritakan kegelisahan itu pada Pa’ Iyep.  Panjang lebar Pa’ Iyep menceritakan apa yang menurutnya layak diceritakan, dari hal terkecil, hal ter-ripuh, sampai hal-hal yang membuat kami terbahak hahaha... . Itulah disini, di Cantigi Farm yang kini sudah terbuat dari rasa kekeluargaan dan silaturahim, juga rasa saling memiliki yang Pa’ Iyep tanamkan benihnya sejak kemarin, tanggal 17 Juni 2014, meski mungkin sebelumnya juga bisa.

Coba aku tuliskan apa saja yang kemarin Pa’ Iyep kasih tahu.
Pa’ Iyep mengatakan bahwa dimanapun kita hidup, kita harus paham dengan filosopi hidup atau kunci dari berkehidupan itu, iya itu adalah saling menerima, atau saling toleran. Jangan mengeluhkan atau menanamkan kebencian pada seseorang, karena kesananya akan teu reseup weh (engga suka) terusss. Artinya adalah bahwa, jika Uzy (salah satu teman pkl) merupakan orang yang ga suka kegaduhan, maka kita harus menerima dia dan menyesuaikan diri kita dengan Uzy itu. Aslina, “lamun urang geus bisa narima kitu mah, moal waas hirup dimana ge, reseup wehhh” kata Pa’ Iyep dengan bahasa Sunda Garutnya yg artinya “beneran, kalo kita udah bisa menerima apapun sifat orang, hidup dimanapun ga akan khawatir, enak terus”. Beliau mengatakan begitu juga sambil ketawa, karena sambil begitu kami jadi senang, iya karena suasananya jadi enggak menegangkan.

Sekarang apakah pembaca ingin bertanya, kenapa saat kita ingin mendengarkan tentang hal yang berhubungan dengan pertanian, Pa’ Iyep malah mengawali cerita dengan membahas tentang filosopi hidup seperti ini. Iya, kami juga tahu kok apa maknanya, makanya kami juga serius mendengarkan, waktu itu, eh.. waktu semalem.

Beliau juga menceritakan tentang kurikulum atau proses pendidikan di negeri ini. Ada yang menarik bagi ku. Itu saat Pa Iyep meng-aneh-kan “naha atuh pkl teh bet sakedeung-sakedeung teing ?”  (kenapa pklnya sebentar banget ?)

kemudian beliau menceritakan atau mengistilahkan seperti ini,
Pa’ Iyep : “Sekarang, kalo ada yang punya sawah seluas  1 hektar, saungnya kira-kira ada berapa ?”
Kami : “saungnya ?” Hiji mereun Pa’ saling bertatap-tatapan”

Kemudian Pa’ Iyep melanjutkan,
“Enya hiji weh cukup” (iya, satu aja, cukup), mau segede apapun sawahnya saungnya mah satu, karena pada fungsinya, saung hanya dijadikan tempat beristirahat melepas penat, sambil makan, sambil minum, sambil merenung bagaimana cara mengatasi permasalahan di lahan, juga sambil mencari solusinya. Artinya, bahwa sebuah bangunan di tengah-tengah sawah itu adalah tempat dimana petani ber-istirahat, merumuskan masalah dilapangan, dan memecahkan masalah tersebut. Bisa disebut, saung adalah sebuah tempat memikirkan hal-hal yang terkait teori.

Ini diasumsikan bahwa zaman sekarang itu malah bangunan-bangunan tempat berteori yang dibuat banyak dan “gararede” (besar), bukan sawahnya, jadi pantes kalo pertanian di Indonesia, walau banyak sarjananya “tetep weh bingung lamun dibawa ka kebon, karna kaget ninggali kaayaan lahan ayeuna” (tetep aja bingung kalo sudah di kebun, karna kaget liat keadaan lahan sebenarnya).

Sebetulnya banyak yang kami bahas pada malam itu, termasuk yang membuat kami tertawa adalah saat Pa Iyep bercerita waktu kerja dan ditempatkan di daerah Transmigrasi (Sumatra), saat itulah istri Pa’Iyep (biasa di panggil Si Ibu) lagi ngidam pengen makan botan (sarden), Pa’ Iyep waktu itu demi Si Ibu tercinta sampai-sampai nyari Sarden ke warung-warung yang pada saat itu untuk menyusuri jalan pun masih sepi, pun jalan disana masih gelap. Cerita lain juga adalah saat si Ibu ngidam lagi kepingin mie ayam, yang pada masa itu, penjual mie ayam membawa dagangannya dengan  ditanggung (seperti digotong), “bapa nepi ka lulumpatan ngudag tukang mie ayam, bari jeung poek, nu kakupingna teh ngan keketrokna hungkul”. (Bapak sampai lari-larian ngejar tukang mie ayam, sambil gelap, yang kedengarnya juga cuma suara kentungannya aja).

Sebegitulah cerita Pa’ Iyep pada kami, sebelum beliau benar-benar berangkat menggunakan mobil pick upnya menuju Tanjung Sari, waktu itu jam sudah menunjukkan jam 10 malam.


Rabu, 18 Juni 2014
07.01 pagi, Cikajang, Garut, sambil kedinginan di kamar.
-Dody Rusli-